beri kali bukan ikannya

Bangladesh. Apa yang terbayang dalam benak kita mendengar nama negara ini? Sebuah negara dengan bayangan kemiskinan, langganan banjir dan kumuh? Ya, nyatanya Bangladesh merupakan salah satu negara miskin di Asia. Namun perlahan tapi pasti negara ini sedang menaiki roda perekonomian yang lebih baik. Melalui pemikiran brilian seorang profesor dan bankir dari Bangladesh, Muhammad Yunus, menjalankan gerakan yang diberi nama kredit mikro. Kredit mikro adalah praktik memberikan bantuan pinjaman tanpa agunan kepada orang miskin. Pinjaman itu digunakan untuk membangun sebuah usaha, seperti warung, bengkel kerajinan- yang dapat mengangkat mereka sekeluarga keluar dari kemiskinan.

Dan seperti dikutip dalam buku ‘Menciptakan Dunia Tanpa Kemiskinan” – “Akses ke modal, sekecil apapun, punya pengaruh transformatif pada kehidupan manusia.”

Gerakan global kredit mikro itu kemudian dikenal dengan nama Bank Gramen. Apa yang membedakan bank Gramen dengan bank umum lainnya? Secara ringkas, bank Gramen melakukan kebijakan yang terbalik dengan yang dilakukan bank umum. Kebijakan itu antara lain: meniadakan agunan, tidak ada surat atau dokumen-dokumen untuk melakukan peminjaman. semuanya dijalankan dengan modal kepercayaan. Pembinaan dan pelatihan kepada para pengusaha kecil ini melalui teman-temannya yang telah berhasil. Contoh di atas adalah sebagian kecil dari kebijakan bank gramen lainnya yang sangat menarik dan diluar kebiasaan.

Sedangkan untuk karyawan bank gramen sendiri ada sebuah keunikan kinerja kerja yang mengingatkan saya pada murid-murid saya di sekolah dasar dahulu. Stiker atau bintang yang diberikan oleh guru kepada murid-murid yang mengikuti pelajaran dengan baik di hari mereka belajar.

Bank Gramen memiliki sistem evaluasi dan insentif lima jenis bintang untuk staf dan cabang-cabang bank Gramen. Jika seorang staf dapat mencapai rekor pengembalian pinjaman 100% untuk seluruh nasabahnya (biasanya 600 nasabah) dia mendapatkan bingtang hijau. Jika dia dapat menghasilkan keuntungan dari pekerjaannya, dia mendapatkan bintang yang lain-bintang warna biru. Jika dia dapat memobilisasi tabungan lebih banyak ketimbang pinjaman yang berjalan, dia mendapatkan bintang ketiga-bintang ungu. Bila dia bisa memastikan seluruh nasabahnya bersekolah, dia mendapatkan bintang cokelat. Akhirnya, bila seluruh nasabahnya bisa keluar dari kemiskinan, dia mendapatkan bintang merah. Staf ini boleh mengenakan bintang-bintangnya itu di dadanya. Mereka sangat bangga akan prestasi itu.”

Seringkali kita tidak menyadari bahwa penghargaan atas sebuah prestasi tidak selalu harus diwujudkan dalam bentuk materi (nominal). Tetapi sebuah ketulusan dan kesungguhan dalam menghargai pekerjaan orang lain memberi kesan yang jauh lebih berarti.

sumber : enggar.net

Advertisements

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: